blogs - media sosial

Jadi YouTuber, Bocah 9 Tahun Ini Dapatkan Rp420,6 Miliar di Tahun 2020

10 Dec 27, 2020
Jadi YouTuber, Bocah 9 Tahun Ini Dapatkan Rp420,6 Miliar di Tahun 2020

Di era ini, YouTuber memang sudah dianggap sebagai sebuah profesi yang bisa menghasilkan pendapatan luar biasa. Uniknya, tak hanya orang dewasa yang b.isa meraih untung maksimal dengan jadi YouTuber, namun anak-anak pun tak mau kalah. Seperti halnya Ryan Kaji, anak laki-laki asal Texas berusia 9 tahun, yang di 2020 ini berhasil menjadi YouTuber dengan penghasilan terbesar di dunia.

Tak tanggung-tanggung, Ryan meraup USD29,5 juta atau setara dengan Rp412 miliar. Dan penghasilan ini ia raih hanya dalam waktu satu tahun saja, terhitung sejak  1 Juni 2019 sampai dengan 1 Juni 2020. Apa yang Ryan dapatkan ini murni hanya berasal dari YouTube saja. Padahal, di sisi lain ia juga memiliki sejumlah penghasilan lain dari kerja sama produk yang ia gunakan dalam video YouTube-nya.

Total ada lebih dari 5 ribu produk yang muncul di video YouTube Ryan Kaji. Tidak hanya mainan anak-anak yang biasa ia unboxing dan review, namun juga sejumlah produk fashion, dekorasi interior, sampai dengan alat elektronik seperti walkie talkie. Yang lebih hebat lagi, dari YouTube-nya, Ryan dilirik Nickelodeon untuk membuat serial televisi sendiri.

Ryan sendiri memulai kariernya sebagai YouTuber di tahun 2015 lalu. Ia banyak membuat video memperagakan permainan bersama ayah dan ibunya. Semakin hari, tema videonya pun makin luas dan penonton YouTube-nya makin meningkat. Saat ini subscriber YouTube Ryan lebih dari 40 juta orang dengan total penayangan video lebih dari 12 miliar kali.

Salah satu video Ryan bahkan masuk ke deretan video YouTube dengan penonton terbanyak sepanjang masa karena ditonton lebih dari 2 miliar kali. Sayangnya, saat ini orang tua Ryan tengah menjalani pemeriksaan karena dugaan iklan yang kurang tepat sasaran. Beberapa iklan di YouTube Ryan yang kebanyakan ditonton anak-anak, dianggap kurang cocok dan kurang mendidik. Kebanyakan, iklan tersebut menampilkan produk makanan yang dinilai kurang sehat untuk anak-anak.