blogs - guest blog

Mengenal Investasi P2P (Keuntungan dan Resiko)

7 Jun 14, 2019
Mengenal Investasi P2P (Keuntungan dan Resiko)

Seiring booming trend Fintech di Indonesia, salah satu inovasi yang berkembang adalah investasi P2P. P2P menarik perhatian karena memberikan return investasi yang cukup tinggi dengan minimum investasi sangat terjangkau. Namun, apa itu investasi P2P dan bagaimana risikonya, perlu dipahami dengan baik. Tujuan tulisan singkat ini membahas prospek investasi P2P sekaligus menelisik risiko jenis investasi ini.

P2P atau Peer To Peer adalah konsep pinjam meminjam antara pemberi pinjaman (Lender/Investor) dan penerima pinjaman (Borrower). Sejak akhir 2016, OJK sudah mengatur keberadaan P2P dalam payung regulasi POJK 77/2016.

Sesuai POJK tersebut, P2P adalah Lembaga pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi (LPMBTI). Apa yang menarik soal P2P ini ?

P2P berbeda dengan proses pinjam meminjam lewat perbankan. Di perbankan, pemilik tabungan tidak mengetahu kepada siapa pinjaman diberikan karena terdapat bank sebagai perantara yang akan menentukan peminjam sesuai dengan kriteria kredit yang sudah ditentukan dan jika terjadi resiko gagal bayar maka bank yang akan menanggung resiko tersebut karena pemilik tabungan akan menerima dana utuh meskipun peminjam gagal bayar.

Sementara, dalam P2P terjadi pertemuan langsung antara investor (pemilik dana) dan peminjam melalui platform teknologi informasi. Investor memilih sendiri siapa peminjam yang diberikan pinjaman. Pemilik dana tahu dan mengerti siapa yang diberikan pinjaman, sedangkan peminjam juga tahu siapa yang memberikan pinjaman.

Dengan mekanisme tersebut, P2P memberikan banyak keuntungan:

Pertama, P2P bisa memberikan pinjaman kepada pihak yang selama ini tidak bisa mendapatkan akses dari perbankan. Bank memiliki regulasi yang cukup rigid dalam pemberian pinjaman.

Oleh karena itu, salah satu alasan P2P berkembang pesat adalah bisa memberikan akses pendanaan untuk inklusi keuangan. Karena di Indonesia masih banyak sekali entitas yang sulit mendapatkan pinjaman dari bank. 

Maraknya pinjaman online belakangan ini didorong oleh kehadiran pembiayaan lewat P2P. Ini menunjukkan besarnya pasar pembiayaan di Indonesia yang belum terjangkau perbankan. 

Kedua, dengan hilangnya fungsi bank sebagai perantara, pemilik dana bisa mendapatkan return keuntungan yang relative lebih tinggi. Secara umum, P2P bisa memberikan return diatas 10% setahun.

Return P2P yang mencapai 10% setahun atau lebih ini sangat menarik karena bersaing dengan saham dan property. Bahkan dengan kondisi belakangan ini pasar saham dan property yang stagnan, return P2P menjadi sangat menarik.

Ketiga, karena menggunakan platform teknologi informasi untuk mempertemukan investor dan borrower, minimum investasi sangat terjangkau. Di beberapa platform, minimum pendanaan P2P bisa mulai dari Rp 100,000.

Minimum pendanaan yang kecil sangat penting untuk menarik masyarakat pada umumnya untuk bisa berpartisipasi dalam investasi. Adanya investasi P2P membuat masyarakat bisa memperluas diversifikasi instrument investasi tanpa membutuhkan minimum investasi yang besar.

Ditambahkan pula dengan penggunaan teknologi informasi, proses pendaftaran dan investasi di platform P2P dilakukan secara online. Tidak perlu repot harus datang ke kantor atau menyerahkan dokumen fisik. 

Keempat, dengan akses online, monitoring investasi P2P dilakukan secara real-time. Investor bisa mendapat info terkini soal status investasi mereka di P2P dengan cepat dan akurat.

Di beberapa platform P2P bahkan sudah menyediakan aplikasi (apps) khusus untuk investor. Adanya aplikasi membuat proses pemilihan dan monitoring investasi menjadi jauh lebih mudah.

Mekanisme Investasi dan Regulasi P2P

Sesuai Peraturan OJK, mekanisme investasi P2P harus mengikuti langkah – langkah berikut:

  1. Registrasi Keanggotaaan. Pengguna, yaitu borrower and lender, mendaftar secara online melalui computer atau ponsel.
  2. Pengajuan Pinjaman. Penerima pinjaman mengajukan pinjaman. Pemberi pinjaman memilih penerima pinjaman yang akan didanai.
  3. Pelaksanaan Pinjaman. Pemberi dan penerima pinjaman menandatangani perjanjian pinjam meminjam. Pemberi pinjaman mengirimkan dana yang dipinjamkan. Penerima pinjaman menerima dana.
  4. Pembayaran Pinjaman. Penerima pinjaman membayar pinjaman kepada pemberi pinjaman.

Sedangkan, dari sisi perizinan, OJK menetapkan prosedur pendaftaran dan perizinan Lembaga yang menyelenggarakan P2P sebagai berikut:

Pendaftaran

  • Penyelenggara wajib mengajukan pendaftaran dan perizinan kepada OJK.
  • Penyelenggara yang akan melakukan kegiatan LPMUBTI/P2P mengajukan permohonan pendaftaran kepada OJK.
  • Penyelenggara yang beroperasi sebelum memperoleh surat tanda bukti terdaftar dari OJK akan dinyatakan sebagai Fintech ilegal dan penanganan selanjutnya diserahkan kepada Satgas Waspada Investasi.

Perizinan

  • Permohonan izin paling lama 1 tahun sejak terdaftar. Jika tidak, surat tanda bukti terdaftar dinyatakan batal. 

Masyarakat sangat dianjurkan untuk hanya berhubungan dengan P2P yang sudah terdaftar di OJK. Silakan lihat Daftar Pinjaman Online Terdaftar OJK.

Resiko Investasi P2P

Layaknya semua jenis instrument investasi, P2P memiliki sejumlah resiko yang harus dipahami dan dipertimbangkan oleh investor sebelum masuk ke instrument ini. 

Pertama, resiko gagal bayar dari peminjam. Karena tidak ada perantara, resiko gagal bayar peminjam ditanggung sepenuhnya oleh pemberi pinjaman (investor). 

Platform P2P akan membantu, tetapi sebatas membantu, melakukan penagihan jika terdapat nasabah yang menunggak. Namun, jika sampai nasabah tersebut tidak membayar, resiko sepenuhnya ditanggung oleh investor.

Kedua, resiko likuiditas investasi. Pendanaan yang sudah dilakukan tidak bisa ditarik kembali sebelum tanggal jatuh tempo sesuai tenor pinjaman yang diambil oleh peminjam.

Ketiga, resiko platform P2P tutup. Ada kemungkinan bahwa platform P2P mengalami penutupan sehingga operasional tidak berjalan dan merugikan investor.

Menghadapi resiko – resiko tersebut diatas, investor harus bisa mempertimbangkan dan mengelola eksposure investasi di P2P dengan baik. Ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan untuk mengelola resiko dengan baik.

Tips Investasi P2P

Ada sejumlah hal yang bisa dipertimbangkan oleh investor P2P: 

Pertama, pilih lembaga P2P yang sudah terdaftar di OJK. Ini sangat penting karena jika sudah terdaftar berarti sudah memenuhi sejumlah persyaratan OJK.

Jangan sesekali berinvestasi di P2P yang belum terdaftar di OJK, meskipun menawarkan  keuntungan yang tinggi. Resikonya terlampau besar berinvestasi di P2P yang belum terdaftar OJK.

Kedua, lakukan diversifikasi investasi secara optimal dan jangan menempatkan dana secara terkonsentrasi. Diversifikasi bisa dilakukan dengan dua acara: (1) dalam satu platform P2P disebar ke banyak pinjaman dan tidak terkumpul di satu atau dua pinjaman saja; (2) investasi ke banyak platform P2P untuk menghindari resiko konsentrasi di satu Lembaga.

Diversifikasi adalah salah satu kunci mengelola resiko dengan baik. Karena itu diversifikasi perlu dilakukan secara disiplin dan konsisten. Jangan tergiur oleh keuntungan yang tinggi sehingga melupakan diversifikasi dalam investasi. 

Ketiga, pelajari dan pahami dengan benar setiap sebelum melakukan pendanaan investasi di P2P. Dengan memahami, hal yang akan diinvestasikan pasti akan mengurangi kemungkinan resiko. 

Platform P2P menyediakan informasi yang cukup lengkap soal calon peminjam. Disediakan ‘fact-sheet’ soal calon peminjam yang bisa diakses oleh investor sebelum melakukan pendanaan.

Keempat, sesuai Peraturan OJK, platform P2P harus menyediakan mitigasi resiko yang efektif untuk mengurangi resiko pendanaan. Investor bisa mengevaluasi platform yang memiliki mitigasi resiko terbaik.

Mitigasi resiko yang diminta oleh OJK antara lain adalah credit scoring, asuransi kredit, dan analisa serta evaluasi kredit yang baik. Hal ini perlu dilihat oleh investor ketika memilih investor.

Kesimpulan

Investasi di P2P menarik karena return yang tinggi, minimum investasi yang kecil dan membantu meningkatkan akses inklusi keuangan di Indonesia. Namun, investasi ini memiliki sejumlah risiko yang bisa merugikan investor.

Karena itu,  investor P2P perlu memperhatikan risiko tersebut dan mempertimbangkan mitigasi resiko yang tepat, sebelum mulai berinvestasi.

Sumbangan tulisan dari Duwitmu.com yang secara rutin membahas isu keuangan terkini, termasuk soal investasi P2P ini merupakan salah satu publisher aktif di ACCESSTRADE Indonesia sejak tahun 2015.