blogs - profil & sejarah

Sejarah Instagram, Media Sosial Hits Masa Kini

10 Jan 05, 2021
Sejarah Instagram, Media Sosial Hits Masa Kini

Sejak lahir pada bulan Oktober 2010, Instagram dapat dikatakan sebagai salah satu platform yang berkembang sangat pesat melebihi platform dengan konsep yang hampir sama lainnya, yaitu Pinterest. Dikatakan berkembang sangat pesat karena sekarang ini dapat dikatakan bahwa Instagram menjadi salah satu media sosial yang memiliki jutaan pengguna di seluruh dunia dalam waktu yang relatif singkat.

Berbicara masalah perkembangannya, tentunya platform satu ini tidak serta merta muncul begitu saja, bukan? Pastinya ada sejarah di baliknya. Nah, berikut ini adalah ulasan singkat mengenai Instagram dari awal kali diciptakan sampai dengan seterkenal seperti sekarang.

Berawal dari seorang remaja bernama Kevin Systrom yang mana memiliki bakat terhadap dunia teknologi karena ibunya, Diane, yang lama bekerja di sebuah perusahaan teknologi dan periklanan, monster.com. Ketertarikan Kevin terhadap dunia teknologi memang tidak seberapa dibandingkan dengan minatnya pada dunia musik layaknya remaja seumuran pada umumnya.

Kevin Systrom

Kevin Systrom

Memang dia sudah diperkenalkan dengan dunia komputer dan pemrograman sejak duduk di sekolah setara SMP di Middlesex School di Concord, Massachusetts, akan tetapi kecintaannya terhadap musik lebih tinggi. Karena telah mendapatkan ilmu pemrograman sejak remaja, Kevin juga pernah menciptakan program untuk menjahili teman-temannya dengan cara meretas akun AOL Instant Messenger mereka. Ya, itu hanyalah sedikit kemampuan Kevin di dunia pemrograman yang tidak dia kembangkan sebagaimana mestinya.

Pada saat duduk di bangku sekolah menengah atas, Kevin kemudian mengambil kerja paruh waktu di sebuah toko musik di Boston Beat. Keputusan bekerja paruh waktu di tempat tersebut karena memang kecintaannya terhadap musik dan juga keinginannya untuk menjadi seorang DJ sangat besar. Bahkan atas bantuan teman-temannya, Kevin pernah menjadi DJ di sebuah klub malam di Boston.

Selepas dari bangku sekolah, Kevin meneruskan pendidikannya ke Stanford University. Uniknya di Stanford ini, Kevin tidak mengambil jurusan musik melainkan yang lebih fokus pada pengembangan komputer dan sistem komputasi. Sayangnya, setelah berada di fakultas tersebut, Kevin merasa bahwa jurusan yang dia ambil tidak tepat karena lebih banyak menulis dan teori daripada praktek. Oleh karenanya dia kemudian berganti jurusan ke management science and engineering program. Dia merasa betah di jurusan tersebut walaupun pada praktiknya lebih ke masalah keuangan dan ekonomi.

Selama berkuliah di Stanford, Kevin yang sudah mengenal ilmu pemrograman komputer sejak remaja kemudian menciptakan program web saat senggang di ruangan dormitorinya, seperti halnya Mark Zuckerberg di Harvard University saat menciptakan Facebook. Program web tersebut berfungsi untuk berbagi foto dengan siapa saja yang dikehendaki. Dari situlah Kevin mulai perlahan tertarik dengan dunia fotografi. 

Di awal-awal perkuliahan sembari menimba ilmu keuangan dan ekonomi, ada satu semester penuh yang sempat digunakan Kevin untuk pergi ke Florence, Italia. Di tempat tersebut, Kevin belajar ilmu fotografi. Keingintahuan dan minatnya terhadap fotografi mulai tumbuh besar. 

Suatu hari, seorang profesor yang mengajar di Florence tersebut memperlihatkan kepadanya sebuah kamera murahan bernama Holga. Sang profesor juga menjelaskan cara kerja dan lain sebagainya kepada Kevin. Kamera Holga sendiri tidak memiliki bentukan yang modern dan justru desainnya sangat retro. Akan tetapi Kevin justru menyukainya karena sangat estetik menurutnya.

Setelah kembali ke Stanford dan kemudian meneruskan perkuliahan, di masa-masa akhirnya di tempat tersebut, Kevin sempat bekerja paruh waktu di Odeo atau sebuah startup podcasting yang menjadi cikal bakal Twitter. Di Odeo, Kevin bekerja sama dengan Jack Dorsey yang menjadi penemu Twitter. Kevin dan Dorsey melakukan banyak hal termasuk tweaking aplikasi bersama-sama. Selama di Odeo, Kevin banyak belajar, terutama dari Dorsey mengenai pemrograman dan juga masalah sosial media.

Selepas dari Odeo, Kevin kembali magang di beberapa perusahaan teknologi raksasa, seperti Microsoft dan Google. Hanya saja, Kevin tidak bekerja di divisi teknologinya, melainkan di pemasaran karena jurusannya di perkuliahan terkait dengan hal itu. 

Dari banyaknya pengalaman kerja di perusahaan-perusahaan raksasa tersebut, jiwa enterpreneur Kevin mulai terbentuk. Sayangnya, dia masih belum cukup tenaga dan biaya untuk memulai semua. Kemudian Kevin kembali bekerja di perusahaan lain bernama NextStop atau sebuah perusahaan penyedia layanan jasa rekomendasi wisata dan travel. Di tempat inilah jiwa entrepreneur dan juga kemampuan pemrograman Kevin sangat terasah. 

Di NextStop, Kevin banyak menulis kode pemrograman sampai menciptakan aplikasi termasuk yang berhubungan dengan fotografi. Ketertarikannya pada dunia fotografi yang dipadu dengan pengetahuannya di Odeo tentang sosial media serta kemampuannya dalam menulis program serta membuat web bergabung menjadi satu pada saat itu.

Sembari tetap bekerja di NextStop, Kevin mulai membuat project sampingan yang dia namakan Burbn atau sebuah aplikasi untuk perangkat mobile yang dapat membagikan foto layaknya Flickr atau Foursquare. Nama Burbn sendiri diambilnya dari nama minuman kesukaannya, Bourbon, yang dituliskan dengan menggunakan model salah pengucapan atau misspelling.

Burbn akhirnya mendapatkan pendanaan dari seorang pendiri Baseline Venture yang juga seorang investor besar bernama Steve Anderson pada awal tahun 2010 sebesar USD 250.000. Ternyata tidak hanya Steve saja, ada 2 orang investor besar lain yang tertarik dengan project Kevin dalam mengembangkan Burbn, yaitu Marc Andreesen dan Ben Horowitx. Mereka berdua masing-masing menanamkan investasi sebesar USD 125.000. Jadi, Kevin sudah memiliki dana sebesar USD 500.000 untuk mengembangkan Burbn. Dengan dana sebesar itu, Kevin akhirnya memutuskan untuk keluar dari NextStop yang mana kemudian startup itu diakuisisi Facebook pada bulan Juli 2010.

Walaupun sudah memiliki dana dan konsep project, akan tetapi Kevin masih membutuhkan orang lain untuk dapat membantunya mengembangkan Burbn. Dikarenakan itu, kemudian dia meminta bantuan salah satu temannya yang juga kuliah di Stanford University bernama Mike Krieger. Pada saat yang sama, Krieger sendiri sedang menyelesaikan sebuah aplikasi chat untuk perangkat mobile bernama Meebo.

Mike Krieger dan Kevin Systrom

Mike Krieger dan Kevin Systrom

Kreiger sendiri tidak dapat meninggalkan projectnya dan setelah mengetahui konsep Burbn, dia berjanji akan membantu Kevin setelah Meebo selesai. Pada bulan Maret 2010, Meebo selesai dan Kreiger kemudian mulai bekerja sama dengan Kevin mengembangkan Burbn. Di awal pembuatannya, Burbn sangat mirip dengan Foursquare. Bahkan saat dirilis secara beta, Burbn banyak mendapatkan tanggapan positif dari pengaman teknologi di Amerika Serikat, sayangnya hanya sebatas itu saja. Burbn seperti sebuah sesuatu yang besar tapi hanya berjalan di tempat.

Oleh karenanya, Kevin mulai berpikir untuk memasukkan unsur fotografi ke dalam Burbn sebagai pembeda dari Foursquare. Kevin pun juga memikirkan apabila hanya sebatas fotografi biasa saja, maka tidak ada nilai plusnya. Kemudian dia mulai teringat dengan kamera Holga dan coba dia aplikasikan pada Burbn dengan menggabungkan unsur vintage dan retro serta penambahan filter yang mirip lomo.

Sejarah penggunaan fitur filter itu pun terinspirasi dari sebuah kejadian di mana pada suatu hari Kevin bersama dengan kekasihnya, Nicole, yang sekarang sudah menjadi istrinya sedang berlibur di sebuah pantai. Pada saat memotret Nicole, hasilnya kurang bagus. Nicole pun kemudian mengatakan bahwa hasil fotonya tidak sebagus milik teman-temannya dan menyarankan untuk menggunakan aplikasi filter. Dari situlah Kevin menambahkan filter pada aplikasi Burbn. Filter pertama yang diciptakan Kevin adalah yang dinamakan X-Pro II.

Setelah semua selesai, Kevin dan Kreiger merasa Burbn terlalu rumit untuk dioperasikan. Banyak tombol dan menu yang terdapat di dalamnya. Oleh karenanya, keduanya kemudian merombak total aplikasi yang diciptakan khusus untuk iPhone itu. Banyak fitur dan menu ditanggalkan dan benar-benar tersisa untuk fotografi saja. 

Selain itu, Kevin dan Krieger juga mendapatkan sebuah celah yang bagus dari popularitas 2 platform yang sedang naik daun saat itu, Hipstamatic dan Facebook. Kevin pun ingin aplikasinya nanti benar-benar real-time dan dapat dinikmati siapa saja. Dengan konsep gabungan antara telegram atau media pengiriman cepat serta kamera instan (instant camera), maka Kevin dan Kreiger sepakat menanggalkan nama Burbn dan menggantinya dengan nama Instagram yang merupakan gabungan dari Instant Camera dan Telegram.

“Saya ingin pengguna (Instagram) dapat mengambil foto, mengolahnya (menggunakan filter dan pengaturan di dalamnya), menuliskan caption dan mengirimkannya ke seluruh dunia. Kita mengganti namanya (Burbn) karena kita merasa aplikasi ini dapat menangkap apa saja yang terjadi (atau diinginkan) dan kemudian mengirimkannya seperti Telegram secara instan. Oleh karenanya, kita menyebutnya dengan nama baru: Instagram,” ungkap Kevin.

Kevin dan Krieger kemudian merilis Instagram secara resmi pada tanggal 06 Oktober 2010 dan mendapatkan 100 ribu lebih pengguna di minggu pertama atau 1 juta pengguna sampai bulan Desember 2010.

Popularitas Instagram tersebut terus melonjak dan membuat banyak investor menanamkan dana besar untuk pengembangan aplikasi tersebut. Ditambah lagi sejak bulan April 2012, di mana Instagram untuk Android resmi dirilis, popularitasnya terus naik. 

Oleh karenanya, tepatnya pada tanggal 9 April 2012 atau hanya berselang seminggu setelah perilisan versi Android, Instagram diakuisisi Facebook sebesar USD 1 miliar yang dibayar secara cash dan menjadi pengakuisisian terbesar dalam dunia teknologi pada saat itu.