Tips Mengatur Layout Desain agar Audiens Fokus ke Produk dan Cerita

Tips Mengatur Layout Desain agar Audiens Fokus ke Produk dan Cerita

Admin
Dec 27, 2025
SHARE ON
1767001050_1-feature-images.jpg

Di tengah banyaknya konten visual yang semakin ramai, layout desain menjadi senjata utama untuk mengarahkan perhatian audiens. Banyak yang mengira layout hanya soal estetika, padahal ini adalah alat komunikasi visual yang menentukan bagaimana pesanmu diterima.

Salah tata letak bisa bikin audiens bingung atau bahkan mengabaikan produkmu. Tapi layout yang tepat bisa membuat mereka langsung tertarik, memahami ceritamu, dan akhirnya melakukan aksi.

Dalam artikel ini, kamu akan belajar cara mengatur layout desain agar perhatian audiens secara natural tertuju pada produk terlebih dahulu, lalu terbawa ke dalam cerita yang kamu bangun. Simpel, strategis, dan siap meningkatkan performa kontenmu.

Pahami Pola Pergerakan Mata: Z-Pattern dan F-Pattern

Sebelum mulai menata elemen desain, kamu harus tahu dulu bagaimana cara mata manusia “membaca” sebuah halaman. Riset menunjukkan bahwa orang tidak membaca seluruh isi halaman — mereka hanya menscan.

Ada dua pola utama yang sering digunakan dalam desain visual:

? F-Pattern

Cocok untuk konten panjang seperti artikel dan blog. Mata pengguna bergerak seperti huruf “F”:

  • Dimulai dari kiri atas (headline)
  • Lanjut ke kanan, lalu turun sedikit
  • Lalu mengulang ke kiri dan kanan dengan intensitas yang menurun

? Z-Pattern

Cocok untuk konten pendek seperti iklan atau landing page. Pola ini membentuk huruf “Z”:

  • Kiri atas → kanan atas → diagonal ke kiri bawah → kanan bawah
  • Titik akhir kanan bawah sangat cocok untuk tombol CTA

Dengan memahami pola ini, kamu bisa menempatkan produk di posisi awal dan cerita atau CTA di titik akhir pola agar audiens terarah secara alami. Perlu diingat juga bahwa pada tampilan mobile seperti TikTok atau Reels, pola ini sedikit beradaptasi di mana area tengah menjadi pusat perhatian utama, namun prinsip alur dari atas ke bawah tetap berlaku untuk menjaga fokus audiens.

Terapkan Hierarki Visual: Panduan Mata ke Produk Dulu, Cerita Kemudian

Hierarki visual adalah teknik dasar untuk mengatur elemen agar perhatian audiens mengikuti alur yang kamu inginkan.

Prinsip-Prinsip Hierarki Visual:

  • Ukuran besar = perhatian utama → Gunakan untuk gambar produk
  • Warna kontras → Ideal untuk menonjolkan tombol CTA
  • White space (spasi putih) → Memberi ruang agar elemen penting lebih menonjol
  • Layering → Menempatkan elemen produk di depan elemen pendukung

Misalnya, dalam konten affiliate, kamu bisa meletakkan gambar produk di kiri atas (titik awal Z-pattern), lalu arahkan ke cerita atau testimoni, dan akhiri dengan CTA yang jelas.

Storytelling dalam Layout: Cerita Bukan Sekadar Teks

Storytelling tidak harus selalu berbentuk paragraf panjang. Dengan layout yang tepat, kamu bisa membangun cerita hanya lewat urutan visual. Ada beberapa teknik layout storytelling yang bisa kamu coba.

Teknik Layout Storytelling:

  • Frame Naratif: Setiap elemen visual berperan sebagai “bab” cerita
  • Carousel Logis: Di media sosial, susunan slide bisa membawa audiens dari masalah → solusi → CTA
  • Grid Storytelling: Tata letak visual yang mengikuti kronologi atau emosi

Contoh penerapan bisa kamu temukan di artikel Cara Visual Storytelling Lewat Desain, yang membahas bagaimana urutan desain menciptakan efek naratif.

Kesalahan Umum: Desain Terlalu Ramai, CTA Terlupakan

Desain yang terlalu “niat” bisa jadi bumerang. Ketika semua elemen ingin ditonjolkan, justru tidak ada yang menonjol. Audiens butuh waktu lebih lama untuk memahami pesan, dan di titik itu perhatian sudah keburu hilang.

Tanda Layout Kamu Bermasalah:

  • Terlalu banyak teks atau ikon dalam satu area
  • Tidak ada spasi putih → desain terasa sesak
  • CTA terlalu kecil atau tidak kontras
  • Tidak ada focal point atau titik perhatian utama

Banyak pemula terjebak ingin memasukkan semua informasi di satu gambar. Hati-hati, ini adalah salah satu kesalahan desain konten affiliate gagal komisi yang paling sering terjadi. Ingatlah bahwa ruang kosong atau white space adalah temanmu, bukan musuhmu dalam mendesain.

Solusi: Coba Pendekatan Unpolished Design

Kalau desainmu terasa terlalu ramai, unpolished design bisa jadi solusi yang realistis. Pendekatan ini tidak menuntut visual yang rumit, justru mendorong kamu untuk mengurangi elemen yang tidak perlu.

Dalam unpolished design, fokus utamanya adalah kejelasan. Satu visual produk, satu pesan utama, dan satu CTA sudah cukup untuk mengarahkan audiens. White space bukan dianggap kosong, tapi ruang bernapas agar mata audiens langsung menangkap apa yang penting.

Hasilnya, layout terasa lebih ringan, pesan lebih cepat dipahami, dan CTA tidak lagi tenggelam di antara elemen lain.

Apa Itu Unpolished Design?

Unpolished design bukan berarti desain asal-asalan atau terlihat tidak profesional. Justru sebaliknya, pendekatan ini menekankan fungsi di atas tampilan. Desain dibuat sesederhana mungkin agar pesan utama tidak tertutup oleh elemen visual yang berlebihan.

Ciri khas unpolished design biasanya terlihat dari penggunaan elemen yang minim: font yang sederhana, warna yang tidak terlalu banyak, komposisi yang rapi, dan jarak antar elemen yang lega. Tidak ada dekorasi yang hanya berfungsi sebagai hiasan.

Contoh Penerapan Unpolished Design

Beberapa contoh sederhana yang sering kamu temui:

  • Konten feed produk: hanya satu foto produk, satu headline pendek (misalnya benefit utama), dan satu CTA seperti "Cek di sini" tanpa tambahan ikon atau ornamen.
  • Story atau iklan singkat: background polos, teks besar dan jelas, produk ditampilkan utuh, lalu swipe-up atau tombol aksi di akhir.
  • Landing page sederhana: hero image produk, penjelasan singkat di bawahnya, dan tombol CTA yang langsung terlihat tanpa perlu scroll panjang.

Pendekatan ini sangat cocok untuk konten affiliate dan media sosial karena audiens bisa langsung menangkap inti pesan hanya dalam hitungan detik.

Penutup

Inti dari layout yang efektif itu sederhana: bikin audiens cepat paham. Mulai dari memahami pola baca (Z/F), lalu menata hierarki visual, memberi white space, sampai memastikan produk dan CTA punya tempat paling menonjol.

Kalau desainmu sering terasa “ramai” dan pesan suka tenggelam, kamu bisa pakai pendekatan unpolished design: kurangi elemen yang tidak perlu, pertahankan satu fokus utama, dan biarkan layout bekerja mengarahkan perhatian.

Kalau kamu ingin membangun konten yang bukan cuma terlihat menarik tapi juga menghasilkan, saatnya praktik.

Daftar jadi publisher Accesstrade sekarang dan mulai hasilkan cuan dari konten yang kamu desain sendiri!

.
Muhammad Harist
Affiliate Specialist
Muhammad Harist telah menjadi SEO Specialist di Accesstrade selama 1 Tahun. Spesialisasinya adalah di Research & Development, Project Management serta Data Analytics. Selain itu, dia memfokuskan pekerjaannya untuk melakukan A/B testing dan membuat study case menghasilkan konversi yang tinggi dan stabil dari campaign affiliate marketing.
Artikel Terkait