Panduan Lengkap Taxonomy Website Beserta Pengaruhnya di Affiliate Marketing

Panduan Lengkap Taxonomy Website Beserta Pengaruhnya di Affiliate Marketing

Admin
insights Nov 06, 2023
SHARE ON
1699371138_11669224_20945817.jpeg

Jika kamu baru mulai membangun website yang SEO friendly, maka yang akan menjadi fokus perhatian ialah pengalaman pengguna yang baik agar strategi SEO yang kamu lakukan berjalan dengan baik.

Dalam panduan lengkap kali ini, akan dibahas segala hal terkait dengan taxonomy website sebagai salah satu strategi optimasi SEO dan bagaimana pengaruhnya yang sangat penting dalam dunia affiliate marketing untuk mendatangkan cuan pada blog kamu. Simak sampai habis ya!

Apa itu Taxonomy?

Secara sederhana, taxonomy atau taksonomi merupakan sebuah langkah untuk mengelompokkan suatu konten yang saling berkaitan menjadi satu. Nah, itu dia! Meskipun taxonomy terdengar sebagai istilah yang kompleks, namun sebenarnya tidak serumit seperti yang terdengar.

Misalnya, jika kamu ingin membuat blog tentang fashion, kamu dapat membuat taksonomi untuk berbagai fashion (baju, celana, topi, dll.) dan menetapkan konten yang relevan untuk setiap taksonomi.

Taksonomi ini tidak hanya mempermudah pengguna dalam menemukan konten yang terkait, tetapi juga mempermudah Googlebot untuk mengenali topic utama yang dibahas melalui struktur website yang telah dibangun.

Coba kamu bayangkan, jika seseorang yang mengunjungi contoh blog tentang fashion di atas, hanya tertarik pada konten tentang baju, bukankah akan cukup membantu jika mereka bisa dengan cepat meng-klik taksonomi untuk hanya melihat konten terkait baju? Dan itu pasti akan jauh lebih membantu daripada membuat mereka harus menyaring banyak konten yang justru berhubungan dengan topi, kan?

Susun Kategori yang Relevan dengan Niche yang Dibuat

Melihat tren SEO saat ini yang sangat mengedepankan user experience, penting untuk membuat susunan struktur kategori website yang relevan dengan topik bahasan dan mudah dimengerti bagi pengguna.

Sedikit rangkuman panduan dari Google Search Essentials, best practice dalam menyusun struktur website adalah dengan membuat konten yang user-friendly, pastikan link website kamu ramah untuk di-crawl oleh Googlebot, optimasi SEO off-page, dan buat keterangan anchor text yang jelas jika ada gambar dalam kontenmu.

Tipe Taxonomy Website

Dalam prakteknya, ketika menentukan struktur taksonomi dari website perlu mempertimbangkan beberapa faktor seperti konten yang relevan, kebutuhan pengguna, goals bisnis, dan skala dari website tersebut.

Berikut ini beberapa jenis taksonomi yang populer digunakan dalam mengelompokkan konten atau halaman dalam sebuah website.

1. Flat Taxonomy

flat taxonomies illustration

Sumber Gambar: Dynomapper

Flat Taxonomy adalah struktur website yang sederhana dan hanya terdiri dari beberapa kategori tingkat atas. Semua kategori di website memiliki tingkat hierarki yang sama. Jenis taksonomi ini sangat cocok untuk website kecil yang tidak memiliki banyak konten.

Biasanya digunakan oleh website Company Profile suatu perusahaan yang pada bagian Homepage-nya hanya memiliki tiga sampai empat kategori konten, seperti ‘Tentang Kami’, ‘Layanan’, ‘Kontak’, dan ‘Alamat’.

 2. Faceted Taxonomy

 

faceted taxonomies illustration

Sumber Gambar: Dynomapper

Faceted Taxonomy digunakan pada website yang kontennya dapat dimasukkan ke dalam beberapa kategori berbeda. Website yang biasanya menggunakan jenis ini adalah website e-commerce.

Hal ini dikarenakan halaman produk pada website e-commerce memiliki berbagai atribut yang dapat disortir untuk memudahkan pengguna menemukan produk yang dicari.

 3. Hierarchical Taxonomy

hierarchical taxonomy

Sumber Gambar: Dynomapper

Hierarchical Taxonomy mengatur kategori website dari yang paling umum hingga yang paling spesifik. Biasanya, website berskala besar seperti media, toko online, atau blog menggunakan jenis taksonomi ini.

Semakin dalam struktur taksonomi website, semakin spesifik konten pada halaman tersebut. Hal ini dapat membantu pengguna dalam mengidentifikasi hubungan setiap halaman dan menavigasinya.

Misalnya, kamu sedang membuat sebuah website afiliasi yang fokus pada industri kecantikan dan perawatan, kamu dapat membuat kategori tingkat atas seperti "Makeup", "Perawatan Kulit", dan "Perawatan Rambut", yang kemudian dibagi lagi menjadi sub kategori seperti "Foundation", "Serum Wajah", "Sampo", dan lain sebagainya. Kemudian, setiap subkategori dapat diperinci lebih lanjut dengan merekomendasikan produk-produk spesifik yang sesuai di bawah masing-masing kategori tersebut.

Dampak Taxonomy Website untuk Affiliate Marketing?

Tahukah kamu, untuk memulai perjalanan sebagai affiliate marketer, penggunaan taxonomy website sangat penting dalam mengoptimalkan strategi affiliate marketing. Kenapa demikian?

Pertama, dengan struktur website yang rapi, pengunjung menjadi lebih mudah dalam mencari produk yang mereka butuhkan. Dengan demikian, pengalaman mereka di website kamu bisa menjadi lebih menyenangkan dan membuat mereka lebih tertarik untuk melakukan pembelian.

Selain itu, dengan struktur taxonomy yang rapi, website kamu juga bisa lebih mudah muncul di hasil pencarian, lho! Kok bisa? Di samping memudahkan user experience, taxonomy structure juga dapat mempermudah Googlebot (crawlers) untuk memahami konteks besar dari konten yang dibahas dalam website kamu.

Bukan cuma itu, dengan menyusun kategori yang tepat, kamu bisa lebih tepat sasaran dalam menawarkan produk kepada pengunjung website kamu. Jadi, semakin banyak orang yang bisa menemukan website kamu, semakin besar juga peluang kamu mendapatkan komisi dari affiliate marketing!

Tips Optimasi Taxonomy Website

Rencana dan Lakukan Research mendalam Mengenai Topik yang Akan Dibahas 

Salah satu tips optimasi taxonomy website yang sangat penting adalah dengan merencanakan dan melakukan riset secara mendalam terkait topik yang akan kamu bahas.

Dengan melakukan riset mendalam, kamu bisa berkenalan lebih jauh mengenai kebutuhan dan minat dari target audiens kamu. Dan juga kamu bisa mengetahui apa yang sedang tren dan apa yang menjadi perhatian utama dari audiens kamu pada saat itu.

Melalui riset yang matang, kamu dapat memastikan bahwa taxonomy website kamu akan memiliki struktur yang sesuai dengan kebutuhan dan minat audiens.

Baca Juga: Apa sih Perbedaan Search Queries dan Keyword? Simak Cara Optimasi Strateginya untuk Produk Affiliate

Bentuk Kategori Website se-Sederhana Mungkin 

Penyederhanaan kategori-kategori yang ada membuat pengguna akan lebih mudah memahami dan menavigasi website kamu. Pastikan juga untuk menghindari membuat terlalu banyak kategori yang dapat membingungkan pengguna.

Kamu bisa mulai dengan memilih kategori-kategori utama yang mencakup topik-topik besar yang relevan dengan konten website kamu. Selanjutnya, tambahkan sub kategori yang spesifik untuk mempermudah pengguna dalam menemukan konten yang mereka butuhkan.

Sebagai contoh, jika kamu memiliki website yang berfokus pada topik fashion, kamu bisa mempertimbangkan untuk membuat kategori-kategori utama seperti "Pakaian Wanita," "Pakaian Pria," "Aksesoris," dan "Sepatu." 

Setelah itu, kamu dapat menambahkan sub kategori yang lebih spesifik di bawah setiap kategori utama, misalnya "Atasan," "Bawahan," dan "Aksesoris Rambut" di bawah kategori "Pakaian Wanita."

Perhatikan Audience Saat Membentuk Taxonomy

Penting untuk memahami kebutuhan, minat, dan preferensi audiens kamu, dengan menyusun kategori-kategori yang relevan dan menarik bagi mereka. Dalam hal ini, kamu perlu mengenal lebih jauh mengenai preferensi apa yang disukai oleh audiens kamu dan apa pain-point mereka.

Usahakan untuk memilih kategori yang mudah dipahami dan tidak membingungkan, serta tambahkan sub kategori yang spesifik untuk memudahkan akses pengunjung ke konten yang mereka cari.

Perhatikan Struktur URL

Tips yang satu ini juga tidak boleh diabaikan, bahwa struktur URL suatu website sangatlah berpengaruh terhadap aksesibilitas website kamu.

Dengan menggunakan struktur URL yang rapi dan jelas, pengguna dapat dengan mudah memahami konten yang akan mereka akses, sedangkan Googlebot dapat dengan cepat mengenali konten yang relevan dan meningkatkan visibilitas website kamu di hasil pencarian.

Pastikan untuk menggunakan struktur URL yang deskriptif dan mudah dimengerti oleh pengguna maupun mesin pencari (Googlebot).

Sebagai contoh, jika kamu memiliki website tentang fashion, struktur URL yang tepat bisa menjadi seperti: 

  • https://namaweb.com/pakaian-wanita/atasan/judul-artikel-1
  • https://namaweb.com/pakaian-pria/bawahan/judul-artikel-2 

Sisakan Ruang untuk Pembahasan Kategori Baru

Kamu pasti berencana untuk terus mengembangkan website kamu hingga jangka panjang, bukan? Nah, untuk itu kamu juga perlu mempertimbangkan ruang guna ekspansi pembahasan ke kategori baru.

Misalnya, jika kamu memiliki website yang berfokus pada topik fashion, kamu dapat mempertimbangkan untuk menyertakan kategori "Tren Fashion Terbaru" atau "Kolaborasi Desainer" yang dapat menampung konten-konten baru yang relevan di masa mendatang.

Dengan menyisakan ruang untuk kategori-kategori baru, kamu dapat dengan mudah mengakomodasi pertumbuhan dan perkembangan website kamu seiring berjalannya waktu, tanpa perlu melakukan perubahan besar pada struktur taxonomy yang sudah ada.

Gunakan Strategi Konten Silo

content silo

Sumber Gambar: Diggity Marketing

 

Mungkin bagi kamu istilah content silo masih terdengar cukup asing, namun sebenarnya strategi yang satu ini sering menjadi andalan bagi praktisi SEO, lho. 

Sebelum itu, apa sih yang dimaksud content silo itu? Content silo merupakan sebuah strategi dalam membangun arsitektur website dengan mengelompokkan atau menyusun konten website berdasarkan kesamaan topik atau keyword menggunakan internal link.

Agar lebih mudah dipahami, analogi konsep konten silo ini adalah dengan membagikan page authority dalam sebuah hierarki website dengan tujuan membentuk sebuah topic authority yang dapat meningkatkan kredibilitas website kamu di mata mesin pencari. Analogi ini disebut dengan istilah Link Juice pada gambar.

Secara website URL, bisa kamu pelajari dari contoh seperti ini:

  • Non-Silo: namaweb.com/halaman
  • Silo: namaweb.com/kategori/halaman

Itulah panduan lengkap tentang Taxonomy website yang ternyata memiliki dampak luar biasa dalam dunia affiliate marketing. Dengan mengoptimalkan taxonomy website, kamu tidak hanya memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik, tetapi juga meningkatkan peluang untuk menarik lebih banyak traffic dan meningkatkan conversion dari website kamu.

Jadi, mau tunggu apalagi mulailah menerapkan tips dan trik ini, apalagi sekarang kamu memiliki kesempatan untuk memonetisasi blog kamu dan dapatkan keuntungannya dengan menjadi publisher Affiliate Marketing di Accesstrade. Penasaran gimana caranya? Kamu bisa cek di sini.

Jangan lupa juga buat bergabung di grup komunitas Affiliate Marketer Accesstrade di Telegram untuk dapat tips edukasi dan teman diskusi yang asyik seputar dunia affiliate marketing.

Gabung Grup Telegram Kami Disini!

 

Referensi Artikel:

  • Search Engine Journal. A Complete Guide To Site Taxonomy for SEO
  • Linked In Artikel Category Information Architecture. What are the most effective ways to create a clear and consistent site structure for SEO?
  • Ahref. SEO Silo Structure: Why It Makes No Sense (And What to Do Instead)

Sumber Gambar:

  • Dynomapper. Website Taxonomy & How To Organize Your Website
  • Diggity Marketing. Silo Structure & Website Architecture: SEO Silos Made Easy

Artikel ini telah direview oleh: 

  • Muhammad Harist Abduh Nazili sebagai SEO Specialist di Accesstrade
  • Rizky Setyo sebagai Penanggung Jawab Content di Accesstrade
Rizky Setyo
Content Author
Berpengalaman dalam Affiliate Marketing sejak tahun 2017, hingga tahun 2023 sudah menjadi tim support Affiliate Marketing untuk campaign dari lebih dari 100 brand dan lebih 20.000 publisher.
Artikel Terkait