Affiliate Link Webstore Brand vs Marketplace: Publisher Harus Pilih yang Mana?

Affiliate Link Webstore Brand vs Marketplace: Publisher Harus Pilih yang Mana?

Admin
ecommerce May 11, 2026
SHARE ON
1780896520_feature-image-ilustrasi-2.jpg

Bayangkan kamu baru saja daftar di Accesstrade, masuk ke dashboard, dan mulai jelajahi campaign. Di satu titik, kamu nemuin brand yang sama muncul dua kali, satu campaign mengarah ke webstore brand-nya langsung, satu lagi ke Shopee. Komisinya beda, landing page-nya beda, dan kamu mulai berpikir: "yang mana yang lebih gampang menghasilkan komisi?" Pertanyaan ini wajar banget, dan artikel ini akan bantu kamu menjawabnya sebelum kamu asal klik campaign.

Ini Perbedaan Cara Kerja Link Webstore Brand dan Link Marketplace

Dua jenis campaign ini punya cara kerja yang berbeda dari akarnya. Link webstore brand artinya kamu mempromosikan URL yang mengarah langsung ke website milik brand itu sendiri, misalnya brand.com. Kalau ada yang klik link kamu dan checkout di sana, komisi langsung tercatat di Accesstrade karena tracking-nya dikelola platform ini secara langsung.

Sementara itu, link marketplace berarti kamu mengarahkan audiens ke Shopee, TikTok Shop, atau Lazada. Di sini, sistem tracking-nya mengikuti aturan masing-masing platform marketplace tersebut. Jadi ada dua sistem yang terlibat: Accesstrade dan marketplace-nya itu sendiri.

Perbedaan ini punya dampak nyata ke tiga hal penting: durasi tracking cookie, siapa yang memvalidasi transaksi, dan seberapa cepat komisi kamu diakui. Memahami ini bukan soal teori, tapi soal kamu tahu ke mana uang komisimu pergi dan kenapa.

Kenapa Cookie dan Attribution-nya Berbeda?

Ini bagian yang sering bikin publisher bingung. Kalau kamu promosi campaign marketplace, durasi cookie-nya ditentukan oleh platform marketplace itu. Di beberapa marketplace, window-nya lebih pendek dari yang kamu kira, artinya kalau orang klik link kamu tapi baru beli beberapa hari kemudian, transaksinya bisa tidak terhitung sebagai konversi kamu.

Untuk campaign webstore brand, tracking-nya diatur langsung oleh Accesstrade. Ini berarti kamu bisa cek ketentuan cookie langsung di halaman detail campaign di dashboard, tidak perlu nebak-nebak. Kalau kamu belum familiar soal cara kerja cookie di affiliate marketing, ada penjelasan lengkapnya di artikel

Definisi Cookies dan Fungsinya untuk Affiliate Marketing yang bisa bantu kamu memahami fondasi ini lebih dalam.

Kelebihan dan Kekurangan yang Jarang Dibahas

Banyak artikel perbandingan cuma kasih pro-con list biasa. Tapi yang lebih penting buat kamu sebagai publisher adalah soal friksi konversi, alias seberapa susah perjalanan dari klik ke transaksi yang disetujui.

Campaign webstore brand punya potensi komisi per transaksi yang lebih besar. Tapi ada tantangannya: orang Indonesia sudah sangat terbiasa belanja di marketplace. Ketika kamu arahkan mereka ke webstore brand yang mungkin belum pernah mereka kunjungi, ada friksi kepercayaan di sana. Mereka belum tentu langsung checkout, terutama kalau tidak ada review atau rating produk yang terlihat.

Campaign marketplace di sisi lain lebih mudah convert karena audiens sudah punya akun aktif dan trust ke platform. Tapi ada dua risiko: komisi per transaksi biasanya lebih kecil, dan pembatalan transaksi lebih sering terjadi karena aturan di marketplace bisa berubah.

Produk Apa yang Lebih Cocok di Masing-Masing Tipe?

Pertimbangannya sederhana: seberapa banyak riset yang dibutuhkan audiens sebelum beli? Produk yang butuh banyak pertimbangan seperti gadget, peralatan rumah tangga premium, atau kecantikan high-end lebih cocok dipromosikan lewat webstore brand. Di sana, brand bisa tampilkan storytelling produk yang lebih lengkap dan meyakinkan.

Sebaliknya, produk impulse buy seperti skincare harga terjangkau, fashion kasual, atau aksesoris sehari-hari lebih mudah convert lewat marketplace karena keputusan belinya lebih cepat. Kalau kamu masih bingung cara riset produk yang tepat sebelum pilih campaign, artikel

Cara Menentukan Produk Terbaik untuk Affiliate Marketing bisa jadi panduan awal yang solid.

Cara Memilih Campaign yang Tepat di Dashboard Accesstrade

Setelah kamu tahu perbedaan dasarnya, langkah selanjutnya adalah praktik langsung di dashboard. Saat kamu buka halaman detail campaign di Accesstrade, ada tiga hal yang harus kamu cek sebelum memutuskan bergabung.

Pertama, cek URL landing page. Kalau domain-nya milik brand langsung (misalnya brandkamu.com), itu webstore. Kalau redirect ke shopee.co.id atau tokopedia.com, itu marketplace campaign.

Kedua, perhatikan tipe konversi. Webstore brand biasanya punya conversion type yang lebih spesifik, misalnya hanya menghitung pembelian yang selesai di checkout webstore. Marketplace biasanya lebih fleksibel tapi punya syarat minimal pembelian tertentu.

Ketiga, bandingkan besaran komisi dengan complexity proses konversinya. Komisi besar di webstore brand tidak otomatis lebih menguntungkan kalau conversion rate-nya sangat rendah karena audiens kamu belum terbiasa belanja di luar marketplace.

Setelah memilih campaign yang tepat, langkah berikutnya adalah distribusi link ke platform yang kamu gunakan. Kamu bisa pelajari caranya di artikel

Cara Mudah Dapatkan dan Sebar Link Affiliate ke Berbagai Platform supaya proses distribusi kontenmu lebih efisien.

Sekarang kamu sudah punya gambaran yang lebih jelas soal perbedaan dua jenis campaign ini. Tidak ada jawaban "mana yang lebih baik" secara universal, karena pilihan terbaik bergantung pada audiens yang kamu punya dan gaya konten yang biasa kamu buat. Yang penting, kamu tidak lagi asal pilih campaign hanya karena komisinya terlihat besar.

Kalau kamu belum bergabung di Accesstrade, daftar sekarang di Accesstrade dan mulai pilih campaign yang paling sesuai dengan gaya promosimu.

.
Muhammad Harist
Affiliate Specialist
Muhammad Harist telah menjadi SEO Specialist di Accesstrade selama 1 Tahun. Spesialisasinya adalah di Research & Development, Project Management serta Data Analytics. Selain itu, dia memfokuskan pekerjaannya untuk melakukan A/B testing dan membuat study case menghasilkan konversi yang tinggi dan stabil dari campaign affiliate marketing.
Artikel Terkait