Mengenal Content Mapping dan Langkah Penerapannya dalam Strategy Affiliate

Mengenal Content Mapping dan Langkah Penerapannya dalam Strategy Affiliate

Admin
search engine optimization Feb 06, 2024
SHARE ON
1707206911_content-mapping-dan-langkah-penerapannya.jpg

Dalam affiliate marketing, pemahaman terhadap content mapping menjadi kunci utama untuk meningkatkan konversi dan membangun hubungan yang kuat dengan pengunjung. Ketika pengunjung pertama kali mengakses situs web kamu, kemungkinan besar mereka tidak akan langsung melakukan pembelian.

Sebaliknya, pengunjung akan menjelajahi situs web kamu untuk memahami lebih lanjut tentang produk atau layanan afiliasi yang kamu rekomendasikan. Pada saat itu, mereka juga akan mengukur tingkat kepercayaan yang diberikan oleh orang lain terhadap konten kamu.

Lalu, apa itu content mapping? Content mapping adalah strategi yang memungkinkan kamu menciptakan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan pengunjung pada setiap tahap buyer journey (perjalanan pembeli). Dengan menciptakan konten yang terarah dan personal, kamu dapat mengarahkan pengunjung potensial untuk melakukan pembelian.

Dalam artikel ini, kami akan membahas lebih lanjut tentang pentingnya content mapping (pemetaan konten), serta langkah-langkah penerapannya untuk membagun strategi afiliasi yang efektif bagi situs web affiliate marketing (pemasaran afiliasi) kamu.

Pentingnya Content Mapping untuk Affiliate Marketing

Pentingnya content mapping dalam affiliate marketing tidak dapat diabaikan, karena dapat membantu merencanakan konten yang mendukung buyer journey dan menciptakan pengalaman pengunjung yang lebih menyeluruh dan personal.

Konten yang efektif dalam affiliate marketing tidak bisa bersifat universal, mengingat setiap pengunjung akan mencari informasi yang berbeda. Untuk memastikan konten kamu efektif, kamu perlu menyajikan konten yang beragam, mencakup berbagai topik yang dicari oleh pengunjung situs web kamu.

Meskipun menentukan topik konten yang terarah tidak selalu mudah, pembuatan content mapping dengan memerhatikan kebutuhan pengunjung situs web dapat membantu kamu menyusun strategi afiliasi secara lebih terkelola.

Langkah-langkah Membentuk Content Mapping

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat kamu lakukan dalam melakukan content mapping, diantaranya adalah:

1. Riset Audience dan Buat Persona

Riset audience dan pembuatan persona merupakan langkah penting dalam proses membuat content mapping. Penting untuk memahami preferensi, perilaku, kebiasaan, dan kebutuhan audience guna menyajikan konten yang benar-benar personal.

A. Riset Audience

Jangan pernah menebak seperti apa audience situs web affiliate marketing kamu. Meskipun asumsi awal dapat membantu, kamu perlu menguji asumsi tersebut dan memastikan keakuratannya untuk membuat content mapping.

Riset audience dapat dilakukan melalui beberapa metode, seperti:

  • Periksa studi pasar, statistik industri, laporan riset, dan survei berdasarkan data yang sudah ada untuk mendapatkan informasi tentang perilaku dan kebutuhan audience kamu.
  • Melakukan survei dan wawancara langsung dengan audience atau pengikut media sosial kamu untuk mendapatkan informasi mengenai preferensi, kebiasaan, dan kebutuhan mereka.

Fokuslah mendapatkan wawancara dari orang-orang disekitar kamu, hal ini akan membantu membuat persona yang lebih akurat. Jika kamu sudah memiliki content strategy, mungkin kamu sudah melakukan identifikasi target audience dan memiliki satu atau lebih persona yang dapat menggambarkan hasil riset kamu.

B. Buat Persona

Setelah mengumpulkan data dari riset audience, langkah selanjutnya adalah membuat persona. Persona adalah karakter fiktif yang merepresentasikan visual dan deskriptif dari segmen-segmen audience yang mewakili karakteristik dan kebutuhan audience situs web kamu.

Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk membuat persona meliputi:

  • Tentukan karakteristik umum audience berdasarkan data riset, seperti demografi, pekerjaan, masalah umum yang dihadapi, dan tujuan mereka.
  • Berikan nama dan gambaran visual untuk setiap persona yang mencerminkan karakteristik utama. Ini membantu kamu memvisualisasikan audience target dari situs web kamu.
  • Jelaskan perilaku dan preferensi setiap persona terkait dengan produk atau layanan yang kamu tawarkan pada situs web. Ini akan membantu kamu menyusun konten yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Melalui riset audience dan membuat persona, kamu dapat membuat content mapping yang lebih fokus dan relevan untuk audience kamu. Proses ini memastikan bahwa setiap langkah dalam buyer journey dapat diwakili dengan konten yang sesuai, sehingga meningkatkan peluang konversi dan keterlibatan audience.

2. Bedah Buying Stages dari Persona yang Telah Dibuat

Setelah membuat persona untuk situs web affiliate marketing kamu, langkah selanjutnya adalah menguraikan buying stages (tahap pembelian) yang dialami oleh setiap persona, termasuk pemikiran, tujuan, dan tantangan yang dihadapi.

Tahapan buyer journey (perjalanan pembeli) meliputi:

  • Awareness (Kesadaran): Pembeli sadar bahwa mereka mempunyai masalah, tetapi mereka belum mengetahui apa masalahnya, atau mereka tidak dapat menyebutkannya secara spesifik. Pada tahap ini, mereka sedang mengalami gejala dari suatu masalah.
  • Consideration (Pertimbangan): Pembeli sudah mengidentifikasi masalah yang mereka hadapi. Mereka bisa mengenali dan mendefinisikan masalah tersebut. Pada tahap ini, mereka sedang mencari solusi yang mungkin dari masalah yang dihadapi.
  • Decision (Keputusan): Pembeli sudah memilih solusi yang ingin mereka gunakan. Pada tahap ini, mereka sedang membandingkan penyedia atau produk terbaik yang menawarkan solusi dari masalah yang mereka hadapi.

Pada setiap tahap, persona kamu akan memiliki kekhawatiran, kebutuhan, pertanyaan, dan tujuan yang berbeda. Usahakan untuk mengidentifikasi hal-hal tersebut pada setiap persona dan setiap tahap buying stages.

Sebagai contoh, mari kita ambil persona seorang ibu rumah tangga yang sibuk. Berdasarkan tantangan dan tujuan yang diketahui dari riset audience, kamu dapat merinci kemungkinan buyer journey untuknya. Berikut contohnya:

Tantangan: Dia kesulitan menemukan waktu luang di siang hari.

Tujuan: Dia ingin mencari waktu untuk memanjakan diri.

  • Awareness (Kesadaran): Bagaimana cara saya meluangkan waktu untuk diri saya sendiri?
  • Consideration (Pertimbangan): Saya harus merencanakan waktu istirahat untuk diri saya sendiri di siang hari. Apa langkah yang bisa saya lakukan agar saya bisa rileks?
  • Decision (Keputusan): Mencari tempat untuk menikmati secangkir kopi yang nikmat akan membantu saya merasa tenang saat saya ingin memanjakan diri. Kemana sebaiknya saya pergi?

Dengan merinci setiap buying stages, kamu dapat menyesuaikan konten untuk memenuhi kebutuhan dan kekhawatiran masing-masing persona. Hal ini merupakan langkah penting dalam menyusun content mapping yang terarah dan efektif.

Baca juga: Mengenal Pillar Pages dan Pentingnya untuk Diterapkan Strategi Blogmu

3. Tentukan Tipe Konten di Setiap Buyer’s Journey yang Telah Dibentuk

Sekarang persona kamu telah terhubung dengan buying stages, kamu dapat meninjau setiap tahap secara individual untuk menentukan tipe konten yang dapat kamu buat, sehingga membantu pembeli mendapatkan informasi dari produk atau layanan afiliasi yang kamu promosikan.

Pertimbangkan hal-hal berikut:

  • Bagaimana kamu dapat memenuhi kebutuhan dan tujuan pembeli di setiap tahap dengan konten?
  • Keyword apa yang mungkin mereka gunakan pada setiap tahap untuk meneliti masalah dan solusinya?

Mari kita lihat masing-masing tahap untuk melihat tipe konten yang dapat kamu gunakan untuk menargetkan pembeli kamu, baik dalam tahap awareness, consideration, atau decision. Catatan: Beberapa tipe konten cocok untuk beberapa tahapan karena membantu lebih dari satu jenis pembeli.

A. Konten Pemahaman (Awareness)

Konten awareness seharusnya bertujuan memberi informasi kepada audience. Ini harus membantu mereka mengidentifikasi dan memahami suatu masalah, mengapa itu penting, dan/atau apa yang seharusnya mereka lakukan selanjutnya.

Tipe konten awareness: How-to guide (panduan cara), checklist (daftar), infografis, blog informatif, ebook, dan postingan media sosial.

B. Konten Pertimbangan (Consideration)

Konten consideration seharusnya membantu audience memilih antara berbagai opsi. Misalnya, kamu bisa mengarjakan mereka tentang solusi suatu masalah, atau kamu juga bisa memberi edukasi tentang solusi tertentu dan mengapa produk atau layanan itu adalah yang terbaik.

Tipe konten consideration: How-to guide (panduan cara), ulasan dan perbandingan produk, studi kasus, laporan resmi, tutorial, dan webinar.

C. Konten Keputusan (Decision)

Konten decision seharusnya menyakinkan audience bahwa produk atau layanan yang kamu promosikan adalah solusi yang tepat untuk kebutuhan mereka. Ini bukan tentang promosi penjualan, tetapi lebih tentang menyajikan nilai dan manfaat dari apa yang kamu tawarkan dengan menunjukkan keahlian kamu.

Tipe konten decision: Product landing page (halaman arahan produk), testimoni dan ulasan, studi kasus, demo, dan fitur produk.

Dengan menyusun jenis konten affiliate marketing yang sesuai dengan setiap tahap buyer journey, kamu dapat memberikan konten yang lebih baik kepada pembeli kamu, membangun Trustworthiness, dan meningkatkan kemungkinan konversi pada setiap buying stages mereka.

4. Gunakan Content Map untuk Evaluasi Konten

Salah satu keunggulan dari content map (peta konten) adalah kemampuannya memberikan gambaran menyeluruh tentang semua konten yang telah kamu hasilkan dan bagaimana setiap bagian membantu pembeli.

Hal ini membantu kamu mengidentifikasi celah-celah yang perlu diisi dan mencapai lebih banyak pembeli pada tahap yang mungkin secara tidak sengaja kamu lewatkan.

A. Kategorikan Konten Lama Berdasarkan Tahap Pembelian

Pertama, tinjau semua konten affiliate marketing yang telah kamu publikasikan dan mulai mengategorikannya berdasarkan buying stages yang paling mungkin ditangani.

  • Jika kontennya sesuai untuk lebih dari satu kategori, pilih kategori yang paling relevan.
  • Jika kontennya tidak sesuai dimana pun, tambahkan ke daftar potensial konten yang perlu diperbarui. Kamu mungkin dapat mengeditnya agar lebih sesuai dengan buying stages yang spesifik.

B. Brainstorm Topik Konten Baru Menggunakan Content Map

Setelah mengategorikan konten affiliate marketing lama kamu, seharusnya kamu memiliki gambaran yang lebih baik tentang kekosongan dalam content strategy yang perlu diisi untuk mengatasi berbagai buying stages.

Fokus pada mengisi kekosongan tersebut terlebih dahulu dan gunakan content map kamu sebagai panduan. Pada titik ini, content map kamu seharusnya mencakup tiga jenis informasi:

  • Persona pembeli kamu.
  • Tahapan dalam buyer journey yang dipetakan ke tipe konten.
  • Tantangan, tujuan, dan tindakan yang mungkin dilakukan setiap persona selama buying stages.

Saat kamu menciptakan topik konten baru, gunakan content map untuk memastikan kamu membuat konten yang personal dan sesuai dengan setiap tahap buying journey persona kamu.

  • Perhatikan persona kamu dan apa yang mereka butuhkan di setiap tahap, termasuk kata-kata yang mereka gunakan untuk mencari apa yang mereka butuhkan.
  • Pertimbangkan tipe konten terbaik yang akan membantu persona kamu di setiap tahap.
  • Berpikir kreatif mengenai kombinasi topik konten dan format yang akan menyentuh persona kamu pada waktu yang tepat dalam buyer journey mereka.

Baca juga: Bagaimana Struktur Situs Dapat Mempengaruhi Performa SEO

5. Dokumentasikan dalam Satu Content Map

Sebuah content map seharusnya menjadi referensi fisik yang dapat kamu gunakan selama proses pembuatan konten affiliate marketing kamu.

Untuk itu, dokumentasikan content map kamu dengan cara yang mudah dibaca dan dimengerti. Pastikan kamu dapat terus menambahkan informasi ke dalamnya seiring dengan berkembangnya konten kamu.

Sebagai contoh, kamu dapat membuat spreadsheet (lembar kejar) sederhana yang mencantumkan persona kamu, tantangan, dan tujuan mereka di setiap buying stages, serta tipe konten yang sebaiknya kamu buat untuk memenuhi kebutuhan mereka, termasuk format dan topik.

Dengan cara ini, kamu memiliki panduan visual yang dapat diakses dengan mudah saat kamu membuat konten affiliate marketing baru. Ketika konten kamu berkembang, kamu dapat dengan cepat menambahkan kolom atau baris baru untuk mencakup lebih banyak informasi yang relevan.

Dokumentasi yang jelas dan teratur dalam satu content map akan membantu kamu tetap fokus dan terorganisir selama membuat content mapping untuk membagun strategi afiliasi yang efektif bagi situs web affiliate marketing kamu.

Jika kamu ingin memperoleh lebih banyak informasi, panduan, atau tips seputar content writing lainnya, affiliate marketing, digital marketing, e-commerce, yang bermanfaat bagi kamu, pastikan untuk membaca artikel-artikel ACCESSTRADE lain di website kami.

Selain itu, ACCESSTRADE Indonesia juga memiliki grup Telegram yang menjadi wadah bagi para affiliator untuk mendapatkan informasi terkini seputar content writing dan affiliate marketing. Yuk, jangan lewatkan kesempatan bergabung dengan komunitas kami, langsung klik tautan di bawah ini ya!

Gabung Grup Telegram Kami Disini!

Referensi Artikel:

  • HubSpot. Content Mapping 101: The Template You Need to Personalize Your Marketing. Diakses pada Januari 2024, dari https://blog.hubspot.com/marketing/content-mapping-template-personalize-marketing
  • Search Engine Land. Content mapping: Who, what, where, when, why and how. Diakses pada Januari 2024, dari https://searchengineland.com/content-mapping-who-what-where-when-why-and-how-427777 
Rizki Setyo
Content Author
Berpengalaman dalam Affiliate Marketing sejak tahun 2017, hingga tahun 2023 sudah menjadi tim support Affiliate Marketing untuk campaign dari lebih dari 100 brand dan lebih 20.000 publisher.
Artikel Terkait